Sahari habis bagian 2
Berselang beberapa hari setelah pertemuanku dengan sidin yang sering lalu lalang tiap pukul 5 sore itu, aku jadi rindu untuk selalu bertemu.... Sidin tak akan paham, bahwa aku akan jadi muridnya yang selalu haus ilmu, aku berguru secara pelan pelan.... Tak menyadari hal demikian, sidin sampai kapanpun tak akan tahu bahwa kerap kali lewat aku mengintip pelannya kayuhan di atas sepeda dengan baju warna ungu itu... Kadang bergembiranya hati ini, bila bait kata yang bertutur disampaikan aku studi komparis hidupku versus hidup sidin Betapa nampak mempesonanya sidin dengan hari tuanya, tak banyak kahandak, kada banyak tuntutan... Akupun ingin, tiba hari tuaku lebih siap, lebih tenang..sebab masa tua adalah titik balik evaluasi atas apa yang sudah dikejar, apa yang sudah diraih, apa yang sudah di dapat....semua itu hanya titipan bukan milikku seutuhnya..... Lalu bagaimana dengan aku yang dengan kesungguhanku atas mimpiku handak ini, handak itu....abai dengan sebenarnya.... Semoga ...